Ziarah Ingatan

Waktu, dalam kerangka yang lebih luas, sangat lekat dengan tema sejarah. Prihatmoko Moki dan Suvi Wahyudianto dengan pendekatannya masing-masing dan dengan pilihan teknik dan mediumnya yang khas bereksplorasi dengan tema sejarah. Keduanya berulang-alik di antara sejarah personal dan sejarah komunitas yang lebih besar. Keduanya ingin menyatakan bagaimana karya seni dapat mengajak kita melintasi waktu melalui peristiwa di masa lampau, bagaimana kita dapat membicarakan hal yang dulunya tabu, dan membantu kita berimajinasi tentang masa depan yang lebih baik.

Tayang 5 Agustus 2021
Tayang 26 Agustus 2021

Commissioned Artist

Jompet Kuswidananto

Love is A Many Splendored Thing | 2021 | site-specific installation | variable dimensions

Ketika berdiri di bibir pantai dan menatap cakrawala di sore hari. Dengan kaki telanjang, di atas pasir. Sisa ombak pelan-pelan meloloskan butir-butir pasir dari sela-sela jemari kaki. Angin laut bertiup kencang. Angan kita terhempas jauh.

Suasana di ujung pantai, menatap batas langit, cakrawala, warna jingga, dan matahari tenggelam kadang digambarkan sebagai situasi yang romantis. Situasi yang mengundang lamunan tentang hal-hal yang telah berlalu. Baik itu telah usai, maupun tak mampu kita sudahi. Hal-hal yang kadang mucul tanpa diperintah dan dan masuk kembali ke dalam ingatan, atau sebenarnya ingatan itu justru tidak pernah keluar dari dalam kepala. Dan ia hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali menyeruak dalam pikiran.

Situasi seperti ini seringkali muncul dalam beragam karya. Seorang pengarang pernah membuat cerita bagaimana ia mencuri senja untuk dipersembahkan pada kekasihnya. Senja dan cakrawala pun telah muncul dan tenggelam dalam nyanyian lagu pop di sekitar kita.

Namun dalam alam pikir Jompet Kuswidananto hal itu berbeda. Ketika Jompet berdiri di bibir pantai dan menatap cakrawala, angan-angan membawanya kepada imaji tentang ketakterbatasan. Suatu kali dia membayangkan dirinya bagai berada di dalam lukisan. Lalu di lain waktu suasana itu membawanya kepada imaji tentang tanah dan air; tanah air.

Jompet dikenal sebagai seorang seniman dengan beragam medium berkarya. Mulai dari karya instalasi, video, sound, perfomance, bahkan teater. Karya-karyanya banyak berbicara tentang sejarah Indonesia, isu-isu politik, globalisasi, kolonialisme, dan mobilisasi masa dalam konteks Indonesia pasca reformasi.

Melalui situasi berdiri di bibir pantai dan menatap cakrawala, Jompet hendak menghadirkan romantisisme dalam sejarah Indonesia. Sejarah tentang penaklukan, tentang kehancuran, tentang perlawanan, tentang perjuangan, tentang kekalahan, dan tentang kemenangan. Tentang bagaimana itu semua kemudian melahirkan ritual-ritual, sumpah serapah, doa-doa, dan puja-puji. Tentang bagaimana itu semua mampu melahirkan pahlawan untuk kemudian dapat kita kenali siapa diri kita dan siapa musuh kita.

Dengan membentangkan instalasi yang tersusun di antaranya oleh pasir dan retakan kaca seluas pandang, imaji cakrawala kemudian dihadirkan. Ingatan barangkali memang getas dan mudah retak. Sejarah barangkali memang tersusun atas puing-puing kekacauan, atas luka dan kemungkinannya melukai, yang terus menerus dibuat mengkilap; berkilauan dan menyilaukan.

Dan ketika kita berdiri menatapnya, barangkali imaji yang mulanya kita miliki tentang cakrawala di pinggir pantai tak akan pernah sama lagi. Barangkali dalam pikiran kita lantas muncul pertanyaan: apa yang sebenarnya kita rayakan?

Young Artist Award

Melalui Young Artist Award (YAA), ARTJOG membuka ruang akses dan kesempatan bagi seniman muda peserta terbaik yang berusia di bawah 35 tahun. Program ini dirancang sebagai wujud penghargaan dan apresiasi atas kiprah mereka dalam berkarya. Sebagai sebuah upaya untuk menggali potensi dan wawasan seniman muda, serta memperluas jaringan dan lintasan karir mereka dalam berkesenian.

Tahun ini program YAA dihadirkan dengan dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Sebanyak tiga dari sepuluh seniman muda peserta ARTJOG berhasil meraih penghargaan YAA , yaitu Bonggal Jordan Hutagalung (Yogyakarta), Nurrachmat Widyasena (Bandung), dan Suvi Wahyudianto (Madura). Tim juri YAA 2021 terdiri dari Agus Suwage, Fx. Harsono, dan tim kurator ARTJOG MMXXI.

Exhibition Tour

Dalam program ini, pengunjung akan diajak untuk mengelilingi ruang pamer dan mendapatkan pengetahuan mengenai konsep dan konteks karya-karya yang ditampilkan hingga mempelajari proses penyelenggaraannya. Program ini dimaksudkan agar dapat mendekatkan karya seni dengan publiknya, sekaligus sebagai sarana edukasi publik.

Meet The Artist

Meet The Artist memfasilitasi publik untuk dapat bertemu dan berbincang langsung dengan seniman yang terlibat dalam ARTJOG. Program ini memungkinkan terjadinya pertukaran pengetahuan dan dialog antara seniman dan publik seni.