Agung Kurniawan

Lahir di Jember (1968), Agung Kurniawan adalah seorang seniman yang bekerja dengan banyak media. Menggambar, membuat instalasi, lukisan dan pertunjukan. Sebagian besar cerita tentang sejarah, tabu dan kekerasan. Mendapat beberapa penghargaan dan berpameran rutin dalam skala lokal, nasional, regional dan internasional sejak tahun 1994.

Karya-karyanya dikoleksi oleh private dan museum di bagai negara Asia dan Eropa; antara lain di National Gallery Singapore, John Thompson museum Bangkok, NGV australia, Van abbe Museum dan Stedeljk Museum Belanda.

Sekarang tinggal dan bekerja di Jogjakarta, sebagai seniman dan sukarelawan di lembaga penyintas 65.
Karya satir tentang nasib penyintas genosida 65, yang direpresentasikan melalui lampu gantung/ chandelier. Lampu gantung ini dibentuk dari baju bekas para penyintas sebagai wakil yang tepat dari situasi hari ini: dilupakan, ditinggalkan dan jadi kambing hitam dalam kondisi yang berulang ulang.

Semestinya chandelier selalu mewakili kemewahan, kejayaan dan kemapanan. Digantung dengan sentosa di pendapa atau ruang tamu rumah raja, adipati atau orang kaya. Namun, lampu gantung ini digantung di pojok ruang gelap. Sinarnya seperti kelip lampu nelayan di jermal atau petani yang tengah menyuluh di gelap malam; nelangsa sia sia.

Seperti genosida 65, lampu redup ini adalah harapan; berharap diakui sebagai korban genosida di tahun 65 atau jadi kambing hitam selamanya. Harapan yang entah.