Time (to) Wonder

ARTJOG MMXXI | Arts in Common
Kita, manusia, sungguh tidak berjarak dengan waktu. Dalam aktivitas sehari-hari kita seringkali dikendalikan oleh waktu kuantitatif--oleh patokan tenggat pekerjaan, jadwal kegiatan dan usia, misalnya. Kita larut di dalam waktu, yang secara kualitatif adalah proses hidup manusia itu sendiri. Dimensi waktu melekat dalam setiap jengkal ruang yang kita tinggali. Tapi, pernahkah kita benar-benar mencoba untuk menyelami ‘apa’ dan ‘di mana’ waktu? Rasanya tak berlebihan jika kita katakan bahwa waktu adalah sebuah misteri sepanjang jaman.

Sains, agama dan filsafat telah mendefinisikan waktu dengan cara yang berbeda-beda. Belum lagi jika selami pelbagai pandangan tentang waktu dalam konteks kebudayaan yang berbeda pula. Dalam keseharian masyarakat di Indonesia, di Jawa khususnya, kita masih bisa menemukan kesenjangan antara ‘waktu objektif’ (berdasarkan jam atau kalender) dengan ‘waktu subjektif’ (berdasarkan persepsi individual, seperti tercermin, misalnya, pada sebutan ‘jam karet’).

Pemahaman tentang ‘gerak waktu’ juga dibedakan secara biner. Di satu pihak, waktu dipercaya bergerak linier (dari masa lalu, ke masa kini dan menuju masa depan). Pandangan ini seringkali dianggap sebagai ‘warisan logika modern Barat’. Sementara dalam wawasan lainnya waktu dipahami sebagai entitas yang bergerak secara sirkular dan siklik—konon kepercayaan ini diturunkan dari filsafat agama-agama Timur. Perbedaan perspektif dan dinamika perdebatan tentang waktu seperti menegaskan betapa manusia tak punya cukup kuasa untuk memahaminya. Waktu sebagai konsep yang problematik dan bermakna jamak inilah yang coba diangkat oleh ARTJOG MMXXI.

Dengan tajuk Time (to) Wonder, ARTJOG tahun ini mengangkat ihwal waktu—dalam keluasan spektrum pengertiannya--melalui perspektif dan praktik artistik para seniman. Melalui undangan khusus dan panggilan terbuka, seleksi kuratorial pada akhirnya mengerucut pada empatpuluh satu seniman yang menampilkan karya dengan medium yang beragam. Meskipun demikian, cukup jelas bagaimana tafsir mereka atas waktu masih dapat diidentifikasi melalui beberapa konsep kunci yang dominan, seperti ‘ingatan’, ‘sejarah’, ‘monumen’, dsb. Menarik juga untuk mengamati bagaimana para seniman cenderung mengaitkan ihwal ‘waktu’ dengan masa lalu. Imajinasi seniman-seniman dalam pameran ini seperti lebih dikendalikan oleh warisan masa lalu, ketimbang proyeksi masa depan. Apakah kecenderungan regresif ini merepresentasikan perspektif budaya masyarakat Indonesia secara umum? Tentu ini adalah topik yang menarik terutama jika dikaitkan dengan pemahaman tentang ‘seni rupa kontemporer’ yang selama ini justru identik dengan ‘hari ini’.

Praktik seni selalu mewakili refleksi mendalam atas pemahaman manusia tentang sebuah hal pada suatu zaman. Meski tidak selalu termanifestasikan dalam kesimpulan-kesimpulan yang terformulasi secara objektif dan sistematis (seperti dalam sains), eksperimen kreatif para seniman mampu menyingkap—secara idiosinkratik dan kadang tak terduga—berbagai misteri dunia yang tak terpecahkan. ARTJOG senantiasa percaya sepenuhnya pada kapasitas seni untuk menyingkap dimensi-dimensi pemahaman manusia yang tersembunyi, tak terpikirkan dan tiada terpermanai. Judul Time (to) Wonder disini bermakna ganda: Pertama, waktu ditempatkan dalam kaitan dengan ‘pesona keajaiban’ dan ‘kedalaman misteri’ dimensi waktu (time wonder). Kedua, pameran ini adalah juga ajakan untuk mempertanyakan kembali (it’s time to wonder) segala sesuatu, untuk menghindar dari semua pengertian ‘kekinian/kemutakhiran hari ini’ yang serba stereotip.

Praktik seni selalu mewakili refleksi mendalam atas pemahaman manusia tentang sebuah hal pada suatu zaman. Meski tidak selalu termanifestasikan dalam kesimpulan-kesimpulan yang terformulasi secara objektif dan sistematis (seperti dalam sains), eksperimen kreatif para seniman mampu menyingkap—secara idiosinkratik dan kadang tak terduga—berbagai misteri dunia yang tak terpecahkan. ARTJOG senantiasa percaya sepenuhnya pada kapasitas seni untuk menyingkap dimensi-dimensi pemahaman manusia yang tersembunyi, tak terpikirkan dan tiada terpermanai. Judul Time (to) Wonder disini bermakna ganda: Pertama, waktu ditempatkan dalam kaitan dengan ‘pesona keajaiban’ dan ‘kedalaman misteri’ dimensi waktu (time wonder). Kedua, pameran ini adalah juga ajakan untuk mempertanyakan kembali (it’s time to wonder) segala sesuatu, untuk menghindar dari semua pengertian ‘kekinian/kemutakhiran hari ini’ yang serba stereotip.

We, humans, really are actually not far from time. In our daily activities we are often controlled by quantitative time—with deadline, schedule and age as its measurement. We are immersed in time, which qualitatively is the process of human life itself. The dimension of time is inherent in every inch of space we live in. But, have we ever really tried to dive into the 'what' and 'where' time is? It's no exaggeration to say that time is a mystery throughout the ages.

Science, religion and philosophy have defined time in different ways. Not to mention if you dive into various views about time in different cultural contexts. In the daily life of people in Indonesia, especially in Java, we can still find a gap between 'objective time' (based on clock or calendar) and 'subjective time' (based on individual perception, as reflected in term of 'rubber clock' for example).

The understanding of 'time motion' is also differentiated binaryly. On the one hand, time is believed to move linearly (from the past, to the present and to the future). This view is often regarded as the 'legacy of Western modern logic'. While in other perspectives, time is understood as an entity that moves in a circular and a cyclic manner—it is said that this belief is derrived from the philosophy of Eastern religions. The different perspective and dynamic of the debate about time seem to emphasize how humans do not have enough power to understand it. Time as a problematic concept and has multiple meanings is what ARTJOG MMXXI tries to discuss.

With Time (to) Wonder as its title, this year ARTJOG picks time as an issue—in its wide spectrum of understanding—through the perspectives and artistic practices of the artists. Through special invitation and open call, the curatorial selection eventually narrowed down to forty-one artists who present works through various mediums. Nevertheless, it is quite clear how their interpretation of time can still be identified through several dominant key concepts, such as 'memory', 'history', 'monument', etc. It's also interesting to observe how artists tend to relate 'time' to the past. The imagination of the artists in this exhibition seems to be more driven by the legacy of the past, rather than the projection of the future. Does this regressive tendency represent the cultural perspective of Indonesian society in general? Of course, this is an interesting topic, especially if it is related to the understanding of 'contemporary art' which has been synonymous with 'the present'.

Art practice always represents a deep reflection on human understanding of a thing at a time. Although not always manifested in objectively and systematically formulated conclusions (as in science), the creative experiments of artists are able to uncover—idiosyncratically and sometimes unexpectedly—the unsolved mysteries of the world. ARTJOG has always fully believed in the capacity of art to reveal the hidden, unthinkable and immeasurable dimensions of human understanding. The title Time (to) Wonder here has a double meaning: First, time is placed in relation to the 'enchantment of magic' and the 'depth of mystery' of the time dimension (time wonder). Second, this exhibition is also an invitation to re-question (it's time to wonder) everything, to avoid all stereotypical notions of 'contemporary/modernity' trend.

Art practice always represents a deep reflection on human understanding of a thing at a time. Although not always manifested in objectively and systematically formulated conclusions (as in science), the creative experiments of artists are able to uncover—idiosyncratically and sometimes unexpectedly—the unsolved mysteries of the world. ARTJOG has always fully believed in the capacity of art to reveal the hidden, unthinkable and immeasurable dimensions of human understanding. The title Time (to) Wonder here has a double meaning: First, time is placed in relation to the 'enchantment of magic' and the 'depth of mystery' of the time dimension (time wonder). Second, this exhibition is also an invitation to re-question (it's time to wonder) everything, to avoid all stereotypical notions of 'contemporary/modernity' trend.


Tim Kurator ARTJOG
Agung Hujatnikajennong | Bambang Toko Witjaksono | Ignatia Nilu