Eldwin Pradipta

Eldwin Pradipta, lahir di Jakarta (1990), lulusan Fakultas Seni Rupa & Desain, Institut Teknologi Bandung, jurusan studio seni intermedia, saat ini tinggal dan berkarya di Bandung, Indonesia. Karya-karyanya terutama mengeksplorasi video dan proyeksi digital sebagai media. Baginya, media baru memiliki posisi menarik antara perbedaan seni tinggi dan seni rendah.

Karya-karyanya sering berfokus pada subjek populis atau seni rendah di Indonesia, disandingkan dan dikotomiskan dengan objek dan praksis seni tinggi. Kehidupan masyarakat juga menjadi salah satu latar dan tema yang berulang muncul dalam beberapa karyanya. Melalui perspektif tersebut, Eldwin mengedepankan keterputusan dan perpecahan dalam tatanan kehidupan sehari-hari di Indonesia sebagai negara dunia ketiga.

Dalam perkembangan terbaru karyanya, Eldwin mengupas persoalan tentang aturan dan sistem yang berlangsung dalam dunia seni rupa kontemporer. Dengan menggunakan bahasa satir melalui karyanya, dia mencoba mengkritisi beberapa aspek yang menurutnya menimbulkan keterbatasan bagi seniman, penonton, karya seni, dan semua pihak yang terlibat dalam dunia seni rupa kontemporer.
Melalui teori relativitas-nya, Albert Einstein mendefinisikan ulang pemahaman kita mengenai ruang dan waktu. Ruang tiga dimensi yang sebelum nya merupakan entitas terpisah dengan waktu, diteorikan sebagai ‘lembaran’ empat dimensional ruang-waktu yang menjadi satu kontinuitas. Tetapi, manusia yang hidup sebagai entitas tiga dimensi, kesulitan mempelajari fenomena empat dimensi ini, apalagi dijelaskan melalui media dua dimensi yang datar (layar komputer atau cetakan di atas kertas). Bahkan, teori-teori fisika mutakhir seperti mekanika kuantum ataupun string theory memprediksi bahwa alam semesta terdiri dari dimensi yang jumlahnya lebih banyak lagi. Para fisikawan mempertimbangkan kemungkinan adanya 11 dimensi, 10 spasial dan 1 dimensi waktu.

Karya ini adalah sebuah karya interaktif yang secara langsung menampilkan keadaan di masa depan, yaitu audiens dan ruang pamer. Image tersebut kemudian diubah menjadi bentuk-bentuk tiga dimensional yang ditampilkan di layar. Bentuk-bentuk ini bergerak secara bebas dan acak di dalam ruang tiga dimensi.

Representasi ini merupakan pemahaman sederhana mengenai dimensi-dimensi lain di luar ruang tiga dimensi yang biasa kita persepsi sehari-hari, serta dimensi waktu yang kita alami secara linear. Kondisi ruang waktu yang ada di hadapan karya, direduksi dan dimampatkan menjadi sebuah video dua dimensi. Gerakan video dalam ruang tiga dimensi lain dalam karya ini, membantu kita untuk membayangkan mengenai dimensi ruang keempat dan mungkin juga dimensi setelahnya.