Eko Prawoto

Eko Prawoto adalah seorang arsitek dan pendidik Indonesia yang memadukan desain kontemporer dengan kearifan lokal. Dia dikenal karena keahliannya dalam tradisi bambu Indonesia dan juga untuk instalasi seni dan proyek yang dia kerjakan untuk masyarakat.

Karya instalasinya pernah dipamerkan di: Poesia di Paglia, The arte all' Arte, Italy 2003, Shrine For Mother Nature, The Echigo-Tsumari Art Triennale, Jepang 2003, Bamboo Shrine, Anyang Public Art Project, Korea Selatan 2005, Toki no Hashi, Kamikatsu Art Festival, Jepang 2007, Lake Entrance Common Ground, Australia 2007, Lung, Asia on The Edge, Singapura 2008, Kuil Bambu, Tapestry of The Sacred Music, Singapura 2010, Zero Project, Festival Seni Tasmania, Australia 2010, Kuil Bambu, Espace Culturel Louis Vuitton, Prancis 2011, Murbazaar, Murau Austria 2012, Garbha, Jendela Esplanade, Singapura 2012, Wormhole, Commissioned work for Singapore Biennale 2013, Shells at The Sea, Holbaek, Denmark 2016, Bamburst, Trans-action Sonsbeek 2016, Arnhem Netherland 2016, Bale Kambang” Europalia 2017, Antwerpen, Belgia, “Time Traveller” i light Singapore 2019.
Kita hidup di tengah kebisingan informasi yang datang bertubi tak kenal waktu dan tak terkendali.

Saatnya menepi sejenak, menyusuri jalan setapak hening kalbu.
Ada banyak yang terlewatkan yang terlanjur hanyut tanpa pernah kita sapa dan raba.

Ada banyak yang sederhana namun yang juga sangat kaya dalam diri kita.

Pelajaran hening untuk kita menyapa menggapainya…

Syair di atas merupakan ekspresi linguistik atas purwarupa bangunan yang digagas oleh Eko Prawoto dalam merespon situasi yang masih berlangsung di saat ini. Kita secara bersama-sama tengah melalui sebuah perjalanan yang berbeda. Sebuah perjalanan kedalam ruang dan waktu yang membuat kita menjemput penemuan dan pengetahuan yang sejati.