Mulyana X Parti Gastronomi

Mulyana menyelesaikan sarjana pendidikan seni rupa di Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung (2011), lalu pindah untuk menempa diri dan proses berkaryanya di Yogyakarta sejak 2014. Praktik seni rupa Mulyana yang beragam berpusat pada tema keberlanjutan sumber daya alam hayati dan pertumbuhan manusia. Sebagai seniman, Mulyana bertumbuh bersama para perajut yang berkolaborasi dengannya dalam menciptakan karya yang berbasis modular. Kelompok kolaboratornya sungguh beragam, dari komunitas transgender, pehobi rajut, hingga para ibu rumah tangga yang merupakan tenaga pembuat modular yang kemudian diramu oleh Mulyana menjadi installasi raksasa tentang kehidupan di bawah laut yang adalah habitat alami bagi tokoh sentral karya Mulyana, Si MOGUS.

Mogus mewakili alter-ego Mulyana, merupakan akronim dari MOnster GUrita Sigarantang. Dunia Mogus adalah gambaran dunia dari sudut pandang Mulyana. Ramuan kreasi koral laut aneka warna dan berbagai pesan dirajut menjadi installasi yang mampu membawa penonton ke dalam pusaran dunia rekaan yang secara visual memikat, untuk segala usia.
Seri rajutan food monster ini merupakan salinan dokumentasi kegiatan Mulyana menjalani karantina selama 2 minggu di Korea Selatan tahun 2021 lalu. Menu Bento yang didapatinya sebagai menu 3 kali sehari itu kemudian direkonstruksi menjadi wujud imajinatif monster yang tersusun dari bahan makanan yang tersaji dalam bento yang berjumlah 41 varian Food Monsters.

Karya ini merupakan karya kolaboratif dengan inisiatif gastronomi asal Bandung, Parti Gastronomi. Bersama Ipin, Seto, dan Reyza sebagai punggawanya, kami sepakat untuk mengangkat tema Nasi Bungkus sebagai penawar rasa lapar bagi kebanyakan masyarakat Indonesia.

Tiga Nasi bungkus dari beberapa daerah menjadi inspirasi rupa monster. Ada Nasi Kucing yang mewakili tuan rumah Jogja, Nasi Jinggo asal pulau dewata Bali, dan Nasi Jamblang hadir dari kota udang Cirebon. Ketiga nasi bungkus ini juga menyajikan keragaman material alam yang digunakan untuk membungkus makanan di Indonesia. Daun jati, daun pisang, hingga kertas bekas menjadi gambaran bagaimana masyarakat Indonesia memanfaatkan sumberdaya yang ada disekitarnya untuk membungkus makanan.

Karya ini menjadi media untuk bermain dengan bentuk dan menemukan kesadaran atas kultur pangan serta relasinya dengan kita sehari-hari