Wedhar Riyadi

Wedhar Riyadi (b. 1980) adalah bagian dari kelompok seniman Indonesia yang karyanya sangat dipengaruhi oleh era perubahan, yang menyaksikan jatuhnya rezim Suharto, transisi berikutnya ke demokrasi, dan meningkatnya arus budaya populer Jepang dan Barat dalam hiburan lokal. Dampak perubahan sosial-politik ini diekspresikan dalam karyanya, yang mengambil dan memanfaatkan berbagai bentuk media massa untuk menciptakan dunia yang surealis dan absurd.
Wedhar mendapatkan gelar Sarjana Seni Rupa dari Institut Seni Indonesia pada tahun 2007. Praktiknya yang kaya meliputi menggambar, melukis, mural, patung dan ilustrasi. Dengan memanfaatkan berbagai bentuk media massa, Wedhar mewakili generasi seniman Indonesia yang karya-karyanya menentang batas-batas tradisional seni rupa dan budaya populer.Karya-karya Wedhar telah dipamerkan secara luas di Asia, Australia, Eropa dan Amerika Serikat. Dia telah berpartisipasi dalam Art Jog edisi 9, 10, dan 11 (2016, 2017, 2018) dan dalam 7th Asia Pacific Triennale of Contemporary Art (2012). Selain banyak menjadi koleksi pribadi di seluruh dunia, karya-karyanya termasuk dalam koleksi the Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art (Australia), National Gallery of Victoria (Australia), Anne & Gordon Samstag Museum of Art (Australia) and the Akili Museum of Art (Indonesia).
Wedhar tinggal dan bekerja di Yogyakarta, Indonesia.
Di era teknologi yang semakin berkembang dengan pesatnya, teknologi pencitraan, media baru dan perangkat lunak telah mempunyai banyak cara untuk mempresentasikan wajah manusia sebagai gambar visual dengan kemampuannya untuk mentransformasi, memanipulasi hingga mereproduksi dan mengubah citra manusia tanpa henti.
Saat ini tidak lagi terpikirkan dan punya waktu untuk diam berjam-jam berpose sebagai model sebuah lukisan potret untuk menangkap identitas, karakter, dan emosi dari seseorang. Meskipun pada metode pertemuan dan interaksi fisik secara langsung ada sesuatu yang lebih manusiawi dan memungkinkan ditangkap indra manusia, namun lewat penggunaan aplikasi teknologi pengolah visual, hal itu akan hilang/ terpotong.
Melalui layar situs media sosial, potret wajah manusia baik yang dikenal atau hanya samar sekedar lewat tak terhitung jumlahnya. Di ruang maya itulah wajah-wajah tampil tidak lagi statis, namun berganti dan berubah dengan dengan sangat singkat.