Citra Sasmita

Citra Sasmita adalah seniman kontemporer asal Bali yang karyanya berfokus pada upaya mengungkap mitos dan kesalahpahaman seni dan budaya Bali. Dia juga sangat tertarik untuk mempertanyakan posisi perempuan dalam hierarki sosial dan berusaha menjungkirbalikkan konstruksi normatif gender.
Lahir di Bali, Indonesia, 30 Maret 1990, Citra Sasmita belum pernah lulus secara formal dari lembaga seni. Pernah kuliah di diploma Sastra Universitas Udayana (2008) dan Fakultas MIPA Universitas Pendidikan Ganesha jurusan Pendidikan Fisika (2009). Impiannya sebagai seniman tumbuh lagi ketika dia bergabung dengan grup teater kampus dan menjadi ilustrator cerpen di Bali Post. Ketika menjadi ilustrator, dia memperdalam dunia seni secara otodidak dan aktif mengikuti pameran di Bali dan luar Bali.
Salah satu proyek jangka panjangnya, Proyek Timur Merah; Harbour of Restless Spirits dipamerkan di Garden of Six Seasons, ParaSite, lukisan di atas kulit sapi yang mencerminkan bahasa lukis Bali Kamasan yang dia kembangkan dalam praktiknya. Ini mewakili geografi sosok perempuan, api, dan berbagai elemen alam, disusun secara aneh dalam energi panseksual yang terbentang. Meskipun berakar dalam pemikiran mitologis dengan referensi spesifik Hindu dan Bali, adegan-adegan tersebut juga merupakan bagian dari proses kontemporer membayangkan mitologi sekuler dan berdaya demi masa depan pascapatriarki.
Gold Award Winner UOB Painting of The Year 2017, berpartisipasi dalam Biennale Jogjakarta 2019, Solo Show bertajuk Ode To The Sun 2020 di Yeo Workshop, Gillman Barrack , Singapore and Garden Of Six Seasons 2020, Para Site, Hong Kong, road to Kathmandu Triennale menjadi penghargaan dan pameran terkemuka dalam karir Citra Sasmita.
Timur merah project merupakan sebuah upaya penelusuran yang saya lakukan terhadap migrasi teks dan naskah lama yang ada di Nusantara, secara khusus yang berpengaruh di Bali. Dalam perkembangannya ada beberapa fakta yang ingin saya kritisi, seperti misalnya pola teks-teks kanon yang berpusat di lingkaran istana cenderung mengisahkan kepahlawanan figure laki-laki untuk mengakomodir kepentingan para elit pria (helen creese). Sementara posisi perempuan dalam dalam Sebagian besar naskah lama tersebut cenderung berada dalam posisi minor seperti menjadi obyek penaklukan dan seksualitas. Secara umum, Timur Merah Project berupaya secara politis untuk menempatkan figure perempuan sebagai karakter protagonist di dalam narasinya, dengan tujuan dapat menjadi antithesis terhadap perspektif sejarah yang selama ini luput mencatat figure perempuan.
Dalam konteks global, saya berusaha untuk menemukan benang merah narasi dari teks-teks lama yang ada di Nusantara dan pengaruhnya secara universal. Bagaimana pola-pola yang sama juga terdapat dalam narasi yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Hal ini berkaitan dengan cara pandang kita terhadap sejarah yang bersifat paralel sebagai manifestasi dari meleburnya batas antara ruang dan waktu. Persebaran pola tersebut, secara asumtif bisa saja terjadi melalui mobilitas manusia dan budaya di masa lampau yang kemudian diwariskan secara turun temurun hingga menemukan morfologinya. Dengan kata lain membentuk suatu arketip. Karya Timur Merah Project VII : Divine Comedy mengambil sampel narasi tentang surga neraka dalam teks Bima Swarga (mitologi hindu) memiliki pola yang menyerupai pada teks Divina Comedia karya Dante Alighieri. Penggambaran yang sesungguhnya juga bisa kita temukan pada teks-teks dari budaya dan agama lain di berbagai belahan dunia.