Timoteus Anggawan Kusno

Timoteus Anggawan Kusno (lahir 1989) adalah seorang seniman yang menyusun dan mempresentasikan karyanya dalam berbagai media, termasuk instalasi, gambar, film, dan proyek institusional. Dia membuat narasi yang membentang di liminalitas fiksi dan sejarah, imajinasi dan memori. Kusno mengajukan pertanyaan tentang kolonialitas kekuasaan dan apa yang tidak terlihat melalui karya dan proyeknya. Dia telah melakukan karya-karya komisi dan memamerkannya secara internasional di beberapa lembaga seni dan biennale besar, termasuk Mumbai City Museum, India, Center for Fine Art Brussels, Belgium, and 13th Gwangju Biennale, Korea Selatan. Beberapa lembaga publik terkemuka juga telah mengoleksi karyanya, antara lain National Museum of Modern and Contemporary Art (MMCA) Seoul, Korea, dan Museum of Contemporary Art (MoCA) Taipei. Dia kini tengah bekerja sama dengan Rijksmuseum, Amsterdam, Belanda, untuk mengembangkan proyek artistik yang merespon artefak dan sejarah panjang perlawanan kolonial dalam “Revolusi!” pameran. Seiring dengan praktik seninya, sejak 2013, dia juga mengembangkan Pusat Studi Tanah Runcuk (CTRS). Proyek lembaga (fiksi) ini melakukan studi eksperimental di wilayah (yang hilang) di Hindia Belanda yang disebut Tanah Runcuk, dengan melibatkan sejarawan, etnografer, sesama seniman, kurator, dan penulis.
Proses menggambar merupakan sebuah upaya intim untuk mengenal, memahami, dan masuk ke dalam belantara yang bisa jadi tak mampu dijamah kata. Inspirasi dari rangkaian lukisan arang di atas kertas ini adalah “perbendaharaan bayang-bayang” yang dikumpulkan dari ingatan samar terkait luka dan silang selimpat hidup pada masa peralihan rezim. Seri karya ini merupakan sebuah peziarahan sederhana kepada kenangan yang memudar dan hilang, untuk menyelami betapa kehidupan bisa teramat rapuh—atau justru menemukan ketangguhannya—di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Karya ini merekam dan mengumpulkan patahan-patahan ingatan, fantasi, maupun kenangan dari mereka yang bertahan dan melampaui masa transisi di masa pendudukan Jepang hingga revolusi/perang dekolonisasi Indonesia antara Indonesia dan Belanda. Bersamaan dengannya pula; kepingan-kepingan luka, juga ketakutan hidup di bawah rezim kediktatoran dipilin serta digambarkan ulang secara anakronis.

Sejarah kerap menghadirkan kisah-kisah besar nan heroik, dimana ingatan-ingatan kecil lolos dan hilang terbawa waktu. Ingatan yang kian kabur dalam pacuan usia ini ditangkap dan direkam kembali, dalam kerapuhan dan kerentanan arang. Ingatan mengganggu yang bergentayangan bak hantu ini tak melulu menampakkan diri dalam wujud yang hancur berantakan. Tak jarang itu hantu menggejala pada wujud yang justru sehari-hari; dari deru suara mesin truk di kejauhan, nafas berat perokok kretek yang diikuti suara jeda dalam frekuensi radio di tengah malam, atau bahkan keheningan laut.