Samsul Arifin

Seorang seniman yang dikenal dengan karya lukis, instalasi dan patungnya, baik di pameran Indonesia maupun internasional. Dengan membangun ikon khusus yang menyerupai boneka, ia bermain-main dalam wilayah presentasi, produksi, material, medium hingga konteks. Melalui penemuan awalnya terhadap bentuk boneka ini ketertarikan dan relasinya dengan menjahit, dan pengolahan benda lunak terlihat. Namun eksplorasinya ini terkait dengan kenangan dan pengalaman tertentu.
Samsul Arifin menciptakan karakter imajinernya Philonoist untuk merepresentasikan manusia modern yang mencintai pengetahuan (Homo scientia). Karakter ini sering ia gambarkan melalui sosok boneka bermata besar (menggambarkan keingintahuan yang tinggi), dan dengan pensil, perangkat tulis yang paling elementer. Pada karya ini Samsul menggambarkan posisi boneka yang sedang duduk di ujung pensil sebagai situasi saat ini yang dirasanya cukup mengkhawatirkan, namun disisi yang lain harus tetap fokus dan tenang agar tidak goyah, selalu menjaga keseimbangan dan kewaspadaan. Inilah simbolisasi dari waktu yang krusial, yang genting. Sesuatu yang penuh resiko sehingga butuh konsentrasi penuh agar tidak jatuh.
Samsul menggunakan karung goni berserat kasar yang dijahit dengan tangan untuk membentuk volume tubuh dan gestur sosok ini. Baginya, teknik menjahit manual dan material goni bermakna sangat khusus karena mewakili cerita-cerita pahit masa lalu yang sering dituturkan di lingkaran keluarganya. Sejak masa kakek buyutnya, keluarga Samsul turun temurun bekerja menjadi tukang jahit di Malang, Jawa Timur. Karung goni adalah bahan pakaian yang paling banyak dikenakan oleh mayoritas masyarakat kelas pekerja, termasuk keluarganya sendiri, pada masa penjajahan Jepang.

Kali ini patung goninya dililit semacam sulur dengan banyak mata sebagai representasi dari pengamatan pada kondisi dan situasi yang sedang terjadi saat ini. Simbol mata tadi bisa diartikan bahwa hidup kita sedang diawasi oleh orang lain (terutama lebih nampak pada dunia media sosial), maupun sebaliknya, kita melihat berbagai macam fenomena yang datang membanjir silih berganti dengan banyaknya.