Restu Ratnaningtyas

RESTU RATNANINGTYAS (1981, Tangerang) adalah seorang seniman dan illustrator yang sekarang bekerja dan tinggal di Yogyakarta. Restu suka bereksplorasi dengan beragam media, terutama cat air, kertas, video, kain, instalasi, dan multimedia. Kebanyakan karya - karyanya membahas mengenai kehidupan sehari-hari, berfokus pada topik sehari-hari yang aktual, narasi kecil, dan objek yang terkait dengan keseimbangan kehidupan manusia.
Selain pertunjukan solo – “Memento: Privatization Room” di Vivi Yip Art Room, Jakarta (2008); “Tantrum” di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta (2016); dan “Subsume” di Baik Art, Los Angeles (2017), “Ranah/Tanah” di Cemeti Art Institute, Yogyakarta (2019) Restu telah berpartisipasi dalam pameran kelompok internasional, seperti “mn?monikos: Art of Memory” di Bangkok, Thailand (2013); “The Roving Eye” di Istanbul, Turki (2014), “Stealing Public Space” di Substation, Singapura (2020), dan terakhir di pameran “Termasuk” di Darren Knights Gallery, Sydney,Australia (2020).
Patafisika digambarkan dengan meleburnya waktu (masa lalu, masa kini, masa depan) dan meleburnya ruang (berbagai ruang sosial dan kebudayaan), meleburnya tempat, meleburnya tanda-tanda (semiotika) ke dalam sebuah kumpulan ilusi imaji atau citra. Di dalamnya, semua saling berinteraksi dan berbaur ke dalam realitas virtual atau media. Sekarang, dalam sosial media, ruang tersebut merupakan simulasi dari realita yang kemudian malah menciptakan realita yang baru, bahkan melampaui realita itu sendiri. Dalam dunia simulasi berlaku hukum simulakra, yaitu "daur ulang atau reproduksi objek dan peristiwa". Tidak ada batasan ruang dan waktu, semua bisa keluar masuk, bergerak maju atau mundur, mengulang atau menduplikasi, merekayasa semaunya. Cepatnya laju informasi yang masuk, kesenangan dan kepuasan akibat interaksi yang terjadi membuat kita seakan akan terjebak, terperangkap dalam peristiwa, tontonan dan realitas tersebut. Manusia semakin merasa punya power, punya kontrol di dalam simulasi, padahal dalam dunia nyata semakin kehilangan kendali.

Dalam karya “Have a nice reality” dan “Chain Reactions”, Restu mengambil simbol, image dan kalimat yang berapa kali saya jumpai pada saat berada di sosial media yang kemudian melekat di dalam pikirannya. Bagaimana Restu seringkali lupa hari dan tanggal mampu mengingat banyak meme atau video/gambar viral yang dilihatnya di twitter atau Instagram setiap hari. Bagaimana kalimat “Choose your fighter” yang berasal dari video game menjadi sangat masuk akal untuk digunakan sehari-hari di dalam realitas sosial media ternyata terbawa dalam kesadaran realitas nyata sehari-hari. Bagaimana peristiwa dalam ruang simulasi dapat membuat kita senang, sedih dan marah secara nyata. Apakah batas antara realitas semu dengan realitas nyata semakin kacau?

Kini kita sibuk memaknai hal-hal di dalam realitas semu sehingga lupa bahkan kehilangan makna kehidupan nyata itu sendiri.