Prihatmoko Moki

Bekerja dan tinggal di Yogyakarta, Indonesia, dia memperoleh gelar BFA dari Institut Seni Rupa Indonesia, jurusan Seni Grafis pada tahun 2009. Dia berkarya dengan beberapa media seni lukis, gambar, komik, mural dan musik. Namun fokus utamanya adalah teknik printmaking/silk screen untuk menyampaikan gagasan mengenai penyebaran karya dan tantangan penggandaan serta persoalan mengenai orisinalitas dan salinan, karena kemampuan seni grafis untuk menghasilkan karya dalam edisi. Dalam karya-karya terbarunya, dia tertarik dengan pandangan sejarah, yang berada di antara fiksi dan kenyataan. Berangkat dari hal tersebut dia menggunakan mitos sejarah sebagai alat untuk berdiskusi dan memahami tentang situasi sosial kontemporer. Dalam proyeknya dia lebih memilih untuk mendekati masalah dengan cara-cara yang satir, kontroversial dan humor gelap.
Pameran tunggalnya antara lain Melancholic Ego dalam Colourful Song of Agony, Jakarta (2010) Power of the Sun, Yogyakarta (2012) Art project KW 2 Yogyakarta (2011). Lupakan Aku Bukan Yogyakarta (2015), dan Pejuang Kalah Tanpa Raja, Yogyakarta (2016 & 2017).

Pada tahun 2013, bersama Malcolm Smith (AU), Rudi Hermawan dan Sukma Smita dia mendirikan Krack! Studio di Yogyakarta, studio dan galeri yang berfokus pada seni grafis. Pada tahun yang sama dia menyelenggarakan dan mengkurasi LELAGU, acara seni tahunan yang menggabungkan musik akustik dan ditanggapi dengan menggambar langsung di Galeri Kedai Kebun, Yogyakarta.

Sejak 2006, dia bergabung dengan proyek seni multidisiplin PUNKASILA, yang diprakarsai oleh Danius Kesminas (AU) dan mengadakan beberapa pertunjukan di Indonesia, Australia, Lithuania dan Kuba. Dia juga dipilih oleh studio Megalo Print/ Canberra, Australia untuk program residensi pada tahun 2014, terpilih menjadi nominator dalam penghargaan seniman muda Redbase Foundation, Yogyakarta pada tahun 2016, dan terpilih untuk menjadi bagian dari festival seni Europalia di Belgia 2017.

Pada 2019 dan 2020 dia mengkurasi pameran seni rupa yang menampilkan seniman dari junior hingga senior dari Yogyakarta, yang disebut FKY (Festival Kesenian Yogyakarta).
Adalah proyek seni yang berangkat dari sebuah Kitab menak yang ditulis oleh Ki Carik Narawita, atas perintah Kanjeng Ratu Mas Balitar, permaisuri Sunan Paku Buwana I pada tahun 1717 M. Cerita Menak disadur dari cerita Persia, judulnya Qissai Emr Hamza yang menceritakan Wong Agung Jayeng Rana atau Amir Ambyah (Amir Hamzah), paman nabi Muhammad SAW. Kitab ini dibuat pada zaman pemerintahan Sultan Harun Al-Rasyid (766-809). Isi pokok cerita adalah permusuhan antara Wong Agung Jayeng Rana yang beragama Islam dengan Prabu Nursewan yang belum memeluk agama Islam. Secara keseluruhan latar belakang cerita Menak adalah Negeri Arab, pada masa perjuangan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam.

Dalam penyebarannya di Jawa cerita ini diterjemahkan dalam pertunjukkan wayang golek, sebuah pertunjukkan wayang berbentuk boneka kayu yang diyakini muncul pertama kali di daerah Kudus pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwana II. Untuk itu walalupun tokoh cerita dan latar belakang ceritanya dari Arab, peraga Wayang Golek tetap diberi pakaian mirip dengan Wayang Kulit Purwa yang berasal dari Jawa.

Melalui karya ini kita dapat melihat keterhubungan antara narasi sejarah dari masa lalu berpengaruh atas kehidupan kita di hari ini. Sekaligus melalui presentasi ini, kita dapat menelusuri terbentuknya sejarah yang dipengaruhi oleh mitos dan cerita rakyat yang kerap kali tidak netral.

Melalui sejarah gambar, Prihatmoko Moki mengartikulasi ulang cerita terbentuk secara lebih luas. Sehingga kesatuan gambar yang disajikan dalam karya ini menjadi representasi kebudayaan lokal yang berpengaruh dalam kehidupan yang lebih global di masa ini.


Projek ini berkolaborasi dengan
Gunawan Maryanto
Sandi Kalifadani
Devi Eka
Dody polkadot
Rendy kangcendol
Dewa marwa
Adib manipulasi
Ahmad Hikam
Denny Febrian
Anjali Nayenggita