Ngakan Made Ardana

Lahir di Bali 1980, tinggal dan bekerja di Bali-Jogjakarta.
Kuliah terakhir saya di Institut Seni Indonesia, di Denpasar Bali. Pada tahun 2001 saya bergabung dengan kelompok seni Taxu , sebuah grup alternatif yang berdiri pada tahun 2001 yang banyak mempertanyakan persoalan ke-Balian pada pendekatan-pendekatan berkesenian pada praktik seni rupa di Bali. Kecenderungan karya saya pada awal-awal
tahun 2003 ditandai dengan komposisi gambar-gambar bawang, yang mana, pada saat itu, saya memakai pendekatan idiom rupa realistik untuk menyampaikan pandangan pandangan tentang lukisan abstrak. Setelah mengerjakan lukisan-lukisan bercorak bawang, saya pindah dari Bali ke Jogjakarta, sebuah keputusan yang sulit ketika ada masa-masa transisi yang yang saya alami dan pada saat itu saya banyak mengisi kekosongan gagasan dengan melukis obyek-obyek yang terdapat di dalam Museum Kraton Yogyakarta. Antara tahun 2013-2014 saya banyak mengeksplorasi tema-tema keluarga, yang terinspirasi pada pertanyaan sederhananya tentang apakah ’’rumah’’ dalam pandangan Bali sebenarnya, terutama ketika saya menetap di Yogyakarta sampai saat ini. Dari rangkaian proses tersebut, saya sedang mencoba mengeksplorasi gagasan-gagasan tentang ‘rumah’ dalam konteks Bali dan hubungannya dengan negara melalui pilihan yang lebih spesifik untuk menekuni tema-tema sejarah kekerasan 1965 di Bali.
Barangkali kita cukup menyadari, bahwa salah satu sektor yang cukup terdampak besar di masa pandemi Covid-19 adalah sektor pariwisata. Sementara Bali adalah salah satu destinasi utama dari pariwisata domestic maupun internasional. Keelokan alam, tradisi, budaya dan seni yang ada di Bali telah menarik perhatian internasional sejak masa kolonial.

Tidak secara langsung, bahwa Ngakan Ardhana adalah kebetulan seorang perupa yang dilahirkan dari Pulau Dewata. Ia mencoba merefleksikan situasi pariwisata Bali dan kondisi pandemic yang berdampak pada merosotnya pariwisata secara ekstrem, menjadi sebuah ikhwal yang ia kaitkan dengan Lukisan Pemandangan alam yang Walter Spies. Spies adalah sosok pelukis dan musisi Jerman yang sangat berpengaruh dalam estetika Bali pada tahun 1930-an.

Melalui dekonstruksi lukisan indo molek Walter Spies ia menyajikan berbagai alegori yang terserak di waktu ini. Waktu yang memungkinkan kita untuk mengoreksi berbagai citraan, baik citraan personal, budaya maupun citraan identitas seni yang selama ini hidup dalam khayali bangsa asing.