Mohamad 'Ucup' Yusuf

Lahir tahun 1975 di Lumajang, Jawa Timur
Tinggal dan bekerja di Yogyakarta

Mohamad Yusuf, yang dikenal sebagai Ucup, menghasilkan karya cetakan balok kayu yang mempercakapkan soal perjuangan sosial-politik lokal dan global, menyoroti paradoks sehari-hari kehidupan modern di Indonesia saat ini. Pada tahun 1998, sebagai lulusan baru Institut Seni Indonesia, Ucup berpartisipasi dalam pembentukan kolektif seni politik Taring Padi. Hari ini, Ucup masih terlibat dalam kegiatan Taring Padi, selain mengerjakan proyek-proyek individunya yang telah mendapatkan lebih banyak selama 3 tahun belakangan.

Dapat dikatakan bahwa beberapa karya individu Ucup terlalu mirip dengan karya Taring Padi, terutama yang meminjam format dan citra yang terlihat dalam poster-poster politik era Perang Dingin. Namun, karya terbaru Ucup seperti yang disajikan di sini, menunjukkan perkembangan gaya yang menarik dengan komentar sosial yang jauh lebih kompleks dan terartikulasikan secara padat—jauh dari rumusan hitam putih karya individu sebelumnya.
Karya-karya Ucup telah dipamerkan secara luas di Indonesia dan dia juga terlibat hampir di setiap Artjog sejak 2012. Karyanya telah dipamerkan di Prancis, Jerman, AS, Australia, dan Jepang dan berada dalam koleksi tetap Fukuoka Asian Art Museum, Singapore Art Museum, and Queensland Art Gallery and Gallery of Modern Art. Dia telah tiga kali mengadakan pameran tunggal di Indonesia, serta di Singapura pada tahun 2015 di Tomio Koyama Gallery di mana dia kemudian ditampilkan oleh galeri di Art Stage Singapore dan Art Basel, Hong Kong. Namun, karya yang dipresentasikan di sini belum pernah dipamerkan di manapun juga.
Percampuran budaya terjadi dimana-mana sehingga membentuk budaya baru yang disesuaikan dengan zamannya. Percampuran budaya yang berlainan, terutama sangat terlihat dari hasil kolonialisme. Budaya kolonial memiliki sudut pandangnya sendiri untuk menjajah budaya negeri yang dikoloninya sampai sekarang. Hanya tinjauan kritis yang mampu membedah hubungan kekuasaan yang masih menindas tersebut. Salah satu metodenya adalah mencari alternatif baru untuk menggambarkan perlawanan dan menemukan solusi yang baru demi menemukan keadilan dan kesejahteraan rakyat.