Mella Jaarsma

Mella Jaarsma dikenal karena karya instalasi kostumnya yang kompleks dan fokusnya pada bentuk keragaman budaya dan ras yang tertanam dalam pakaian, tubuh, dan makanan. Dia lahir di Belanda pada tahun 1960 dan belajar seni rupa di Minerva Academy di Groningen (1978-1984), setelah itu dia meninggalkan Belanda untuk belajar di Institut Seni Jakarta (1984) dan di Institut Seni Indonesia di Yogyakarta. (1985-1986). Dia tinggal dan bekerja di Indonesia sejak saat itu. Pada tahun 1988, dia mendirikan Rumah Seni Cemeti, sekarang disebut Institut Seni & Masyarakat Cemeti bersama Nindityo Adipurnomo, salah satu ruang seni kontemporer pertama di Indonesia, yang hingga hari ini masih menjadi platform penting bagi seniman muda dan pekerja seni di negara dan wilayah.
Karya-karya Mella Jaarsma telah banyak ditampilkan dalam pameran dan acara seni rupa di dalam dan luar negeri, antara lain: ‘Dunia Dalam Berita’, Macan Museum, Jakarta (2019); The Setouchi Triennale, Japan (2019), the Thailand Biennale (2018); the 20th Sydney Biennale (2016); ‘The Roving Eye’, Arter, Istanbul(2014); ‘Siasat – Jakarta Biennale’, Museum of Ceramics and Fine Arts, Jakarta (2013); ‘Suspended Histories’, Museum Van Loon, Amsterdam (2013); ‘Singapore Biennale’, Singapore Art Museum (2011); ‘GSK Contemporary – Aware: Art Fashion Identity’, the Royal Academy of Arts, London(2010); ‘RE-Addressing Identities’, Katonah Museum, New York (2009); ‘Accidentally Fashion’, Museum of Contemporary Art, Taipei (2007); Yokohama Triennial (2005),, dan banyak lainnya. Karyanya juga menjadi bagian dari koleksi, antara lain, Galeri Seni Queensland, Brisbane, Galeri Nasional Australia dan Museum Seni Singapura.
'The Size of Rice' menggali pengukuran atas objek, seperti sebutir beras, serta pengukuran antara objek dan tubuh.
Ukuran memainkan peran penting dalam hidup kita dan merupakan dasar dari pola pikir, naluri, dan kecerdasan kita. Bagaimana kita memandang dunia dan bagaimana kita membentuk dunia di sekitar kita secara langsung mencerminkan pengukuran dan proporsi dalam kaitannya dengan tubuh manusia. Untuk ‘The Size of Rice’ saya mengajak empat performer dengan latar belakang etnis dan budaya yang beragam di Indonesia untuk berkolaborasi dengan saya. Berdasarkan pemahaman masing-masing penari tentang korelasi yang disukai, yaitu panjang, berat, waktu dan jarak (antar ruang), saya membuat objek/kostum untuk setiap individu terkait dengan ukuran tubuh yang mereka pilih. Setelah objek/kostum terbentuk, saya memberikannya kepada para pelaku untuk berinteraksi langsung dan membuat pertunjukan di tempat, mengingat diskusi kami tentang pengukuran dan makna budaya.

Penari: Abdi Karya, Siska Aprisia, Pebri Irawan, Ari Dwianto
Konstruksi kayu: Octo Cornelius
Video: Anita Reza Zein

Terinspirasi dari Asta Kosala Kosali, kepercayaan Hindu Bali yang merupakan cara penataan tanah dengan perumahan dan bangunan suci berdasarkan anatomi tubuh. Bagian tubuh kepala keluarga diukur dan menjadi satuan dasar ukuran elemen struktur seperti keliling tiang bale, lebar pintu dan jarak antar tempat pemujaan keluarga.
Melalui pemikiran ini kita dapat memahami keterhubungan antara arsitektur dan tubuh. Bahwa Arsitektur menjadi 'perpanjangan' dari tubuh. Yang juga dapat dimaknai sebagai pengembagan dari kesadaran atas ukuran dan pengukuran; itu ada dalam naluri kita—seperti halnya mengukur dari perspektif yang mana?

Selama pandemi, gagasan tentang pengukuran dan jarak telah memaksa kita untuk mengalami pengalaman baru. Seperti halnya ketika melihat foto teman misalnya di Instagram yang berdiri berdekatan tanpa masker, hal ini sontak memancing pertanyaan, oh ini sebelum 2020, atau, oh itu berbahaya? Efek psikologis dari satu tahun hidup dengan pandemi ini sudah tertanam di otak kita. Gagasan tentang jarak ini sekarang tercermin dalam perilaku kita dan perilaku kita yang dipaksakan untuk menjaga jarak, disimpan di suatu tempat di tubuh kita.