Ruang MES 56

Ruang MES 56 adalah sebuah lembaga non-profit yang didirikan di Yogyakarta pada tahun 2002 oleh sekelompok seniman, dan berfungsi sebagai laboratorium produksi dan penyebaran ide seni berbasis foto, yang menekankan pada pendekatan eksplorasi dan eksperimental, secara konseptual. Ruang MES 56 mempunyai misi mengembangkan wacana seni rupa kontemporer dan budaya visual, sekaligus mengoptimalkan jaringan seni rupa di kawasan Asia Tenggara melalui beberapa program dan kegiatan seperti residensi/diskusi, pameran dan proyek seni lintas disiplin.

"On Heavy Rotation"


Ruang MES 56 merupakan kolektif seniman yang merangkap sebagai ruang publik, yang memiliki performativitas untuk melakukan kerja-kerja domestik dan hospitality . Kedua hal tersebut menjadi laku yang dilestarikan sejak gelombang pertama kumpulan mahasiswa Fotografi ISI Yogyakarta. Sebagai kolektif seniman, MES 56 menyediakan sarana penunjang dalam melakukan proses kreatif penciptaan karya, ruang publik yang juga tersedia di dalamnya menciptakan pertemuan unik antara entitas seni dan kelompok masyarakat lain. Kedua hal tersebut secara aperiodik mendapat kesempatan untuk bertemu di satu ruang yang sama.

Ruang MES 56 memilih untuk mempertanyakan ulang waktu yang sudah berjalan. Hal-hal yang berkaitan dengan laku yang menubuh pada tiap-tiap individu dalam melakukan proses penciptaan, maupun laku yang telah menubuh pada organisasi untuk memberikan ruang yang setara melalui penggunaan ruang yang sama.

Perbedaan generasi yang terdapat di dalamnya, memunculkan secuil gap yang memisahkan pengetahuan dan pengalaman. Organisasi yang sudah setua anggota termuda (jika dihitung sejak pre-MES 56) membutuhkan formula untuk dapat bertahan dan mencari solusi terhadap setiap tantangan yang dihadapi. Untuk itu dibutuhkan peremajaan yang menuntut pewarisan ilmu pengetahuan, jaringan, dan pengalaman yang ditemui dalam kurun waktu 19 tahun terakhir.

Perjalanan panjang dan laku yang terus diulang sejak awal kelahirannya, memunculkan “On Heavy Rotation” sebagai gagasan untuk membungkus empat sub tema yang digelar pada hajatan ArtJog Arts in Common kali ini. “On Heavy Rotation” juga dimaknai sebagai rangkuman dan usaha untuk menunjukan laku yang dijalankan sejak awal tahun 2000an. Gagasan tersebut dihubungkan dengan “Time to Wonder” yang dimaknai sebagai peristiwa untuk merefleksikan hal-hal yang telah dilalui. Pameran akan berganti dalam empat putaran dimana masing-masing putaran berangkat pada laku reflektif pada tiap-tiap individu dalam melakukan proses penciptaan. Masing-masing sub tema terbagi dalam empat fragmen gagasan atas: repetisi dan eksperimentasi (putaran pertama yang berjudul “On Heavy Rotation: Remix Fantastix”), lanskap (putaran kedua yang berjudul “On Heavy Rotation: Scenery in Absentia”), kebendaan (putaran ketiga yang berjudul “On Heavy Rotation: Material of Memories”), dan sosial-politik (putaran keempat yang berjudul “On Heavy Rotation: The Understatement”).

8 Juli - 20 Juli
“On Heavy Rotation: Remix Fantastix”
Anang Saptoto, Daniel Satyagraha, Eris Setiyawan, Danysswara

21 Juli - 3 Agustus
“On Heavy Rotation: Scenery In Absentia”
Fajar Riyanto, Jim Allen Abel, Nunung Prasetyo

4 - 17 Agustus 2021
“On Heavy Rotation: Material of Memories”
Artist: Edwin Roseno, Arief Budiman, Yudha Fehung

18 - 31 Agustus 2021
“On Heavy Rotation: The Understatement"
Artist: Dito Yuwono, Akiq AW
On Heavy Rotation: The Understatement


Selain melalui penguasaan atas ekspresi politik dan ekonomi, bentuk hegemoni yang paling halus dan kuat adalah dengan penguasaan atas consent, persetujuan atau kesepakatan atas apa yang penting dan apa yang tidak. Penguasaan melalui consent ini salah satunya secara lembut menyusup ke dalam apa yang disebut dengan akal sehat; bahwa apa yang dianggap masuk akal, yang sesuai dengan nalar adalah sesutu yang dikonstruksi oleh kuasa hegemonik. Kemudian warga dengan begitu saja menganggap apa yang ada sebagai wajar, normal, dan sesuai dengan yang seharusnya.
Dua karya dalam pameran kali ini mengungkap manifestasi ideologis Orde Baru melalui produk kebijakan negara. Karya Dito Yuwono yang berjudul “Sarana Bina Keluarga” berlatar kebijakan orde baru untuk mengembangkan perumahan, khususnya perumahan bagi para pekerja negara [kala itu disebut sebagai Pegawai Negeri]. Dito secara spesifik melihat dari sudut pandang absennya praktek mendokumentasian fotografi atas interior rumah. Setelah mengamati foto dokumentasi keluarganya, ia menemukan kenyataan yang menarik atas adanya keseragaman, dan upaya penyeragaman rumah khususnya pada pilihan barang, tata letak, dan bentuk yang menjadi lanskap keseharian di dalam rumah, yang lantas membentuk keseragaman pola perilaku, hasrat, hingga ideologi.
Sedangkan seri karya Akiq AW yang berjudul “Di Dinding Kota Aku Temukan Para Anggota” secara spesifik memotret sisa-sisa relief polisi yang tersisa di pinggir jalan. Untuk menegakkan aturan lalu-lintas, negara menggunakan patung atau relief polisi yang dipasang di pinggir jalan sebagai wujud hadirnya kuasa polisi pada tiap tikung jalanan. Kebijakan yang diberlakukan di era 80-90an ini alih-alih menjadi pengingat justru mengambil peran lebih jauh, yaitu manifestasi kuasa pihak berwenang yang secara terus-menerus menghadirkan perasaan ketakberdayaan pada alam pikir warganya.
Kedua karya ini memberikan gambaran apa yang dianggap sepele, dianggap tidak penting, ternyata adalah sebuah upaya terorganisasi dan terencana untuk menerapkan kepatuhan atas aturan atau cara hidup tertentu yang diinginkan negara.
On Heavy Rotation: Material of Memories


Dia | Peristiwa | Objek temuan | Relasi | Bayangan | Teks | Material | Wajah | Masa lalu | Spekulasi | Refleksi | Sumber air | Metafora | Perkakas | Memori | Aku
On Heavy Rotation: Scenery In Absentia

Sadar, tidak sadar, suka dan tidak suka kita selalu disuguhi dan dijejali oleh berbagai macam bentuk-bentuk pemandangan. Pemandangan tidak hanya dalam bentuk objek bentang alam saja, namun pemandangan dapat secara sengaja dibentuk oleh berbagai kebutuhan yang saling tumpang tindih ataupun yang mungkin telah mengalami intervensi berbagai kepentingan seperti ekonomi, sosial budaya atau politik. Dalam karya-karya kali ini, kami menawarkan perspektif yang berbeda, menjadi alternatif cara bagaimana memahami landscape/pemandangan. Alih-alih melihat pemandangan hanya sebagai objek fotografi, kami melalui karya-karya ini, mencoba untuk menawarkan landscape/pemandangan itu justru sebagai media untuk melihat banyak hal dan atau berbagai persoalan di balik pemandangan itu. Kita kemudian akan melihat bagaimana pemandangan itu mempunyai layer yang sangat banyak, tidak melulu soal bentang alam dan keindahan saja. Namun, didalam pemandangan-pemandangan ini kita akan melihat adanya nilai-nilai lain yang menyertai bentang alam tersebut.

Dalam karya Nunung, pemandangan digunakan sebagai salah satu penekanan atau penyerta akan sesuatu yang sakral dan agung dengan memadu-padankan dengan koleksi busana pengantin yang disewakan, seperti yang sering kita lihat dalam beberapa waktu belakangan ini, kita lazim menyebutnya foto pre-wedding. Bagi Nunung, yang latar belakang keluarganya mempunyai bisnis di bidang pernikahan salah satunya adalah penyewaan kostum, peristiwa pernikahan adalah keseharian. Manusia-manusia dibalik costume glamour pengantin Jawa, datang dan pergi, silih berganti hampir setiap saat, oleh sebab itu manusia dibalik pakaian-pakaian pengantin jawa itu menjadi anonim bahkan hilang sama sekali. Sedangkan dalam karya Fajar, yang menghadirkan bentang tembok dinding benteng keraton Yogyakarta dalam karyanya, seperti atau seolah-olah sebagai penghalang pemandangan dibaliknya karena menganggap adanya situasi "darurat" dari sekelompok warga yang tidak bisa berkutik karena adanya sebuah perubahan akan pemandangan oleh intervensi kepentingan kekuasaan.

Begitu pula dengan karya Jimbo, yang me-reenactment sebuah peristiwa penting pada masa Orde Baru yang menunjukkan bagaimana penguasa dapat dengan mudah memaksakan situasi, untuk membuat sebuah pemandangan baru dengan mengorbankan rakyatnya. Jimbo membawa ingatan masa kecilnya ketika pertama kali mendengar peristiwa tersebut, seperti imajinasi anak kecil membayangkan bagaimana kisah yang memilukan itu direkonstruksikan. Ini tidak hanya perkara bentang keindahan, namun didalam keindahan tersebut terdapat kemanusiaan dan nilai-nilai lokal yang wajib ditegakkan.
On Heavy Rotation: Remix Fantastix

Ini adalah parodi dengan memanipulasi huruf “c” pada fantastic diganti menjadi huruf “x” agar memiliki rima yang sama dengan kata “remix”. Seturut dengan praktik dari kelompok pertama dalam display kali ini, kami rasa memiliki rasa bermain atau memainkan baik secara estetik maupun artistik. Kami mencoba mengganti posisi tunggal menjadi jamak, sentral menjadi desentral, baku menjadi tercacah dan terbelah. Menyusun, mengulang, menumpuk, dan merekam tanpa henti. Mengajak kalian semua maupun diri kami sendiri, melampaui batas-batas pemaknaan dan keterbatasan.