Dwi Tunggal

Dwi Putro atau akrab disapa Pak Wi memiliki nama Dwi Putra Mulyono Jati, lahir di Yogyakarta pada pada 10 Oktober 1963 sebagai anak kedua dari 10 bersaudara. Meski didiagnosa mengidap skizofrenia Pak Wi memiliki minat dan kelebihan dalam melukis.
Nawa Tunggal sebagai anak ke-9, lahir pada 28 Juni 1974, adalah sosok yang berperan mengarahkan dan mendampingi Pak Wi dalam melukis, sejak sekitar tahun 2000.
Pada tahun 2007, Nawa mendapat motivasi dari seorang seniman, Samuel Indratma, di Yogyakarta untuk menghadirkan karya-karya Pak Wi di ruang publik. Hingga kemudian berbagai kegiatan dan pameran dijalani di Yogyakarta, Jakarta, Bali, Bandung, dan Jepang.
Di Jepang, pameran difasilitasi Borderless Art No-Ma Museum, di kota Omihachiman, Prefektur Shiga, Jepang. Ada tiga kali pameran setiap tahun berturut-turut antara 2018-2020. No-Ma memberi pengalaman berharga bagi Nawa.
Karya-karya Pak Wi pernah dipresentasikan dalam pameran tunggal: "Abnormal Baru", Jogja Gallery, Yogyakarta (2021); “Perempuan-perempuan Pakwi”, Museum Basoeki Abdullah, Jakarta (2020). Selain itu juga dalam beberapa pameran kelompok di berbagai kota di Indonesia juga di luar negeri, seperti: “Art Ability”, Menara Tendean, Jakarta (2022); “Pameran Bersama 51 Perupa”, Jakarta (2021-2022); “Jogja International Disability Arts Biennale”, Yogyakarta (2021); “Rima Rupa”, Yogyakarta (2021); “Ruwat”, Pameran Daring Teatrikal Lukisan, @budayasaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2020); “Still Life”, Pameran Daring di Galeri Pulau Isolasi Jun Kitazawa (2020); "Nandur Srawung", Taman Budaya Yogyakarta; “Wajah Indonesia”, Pekan Kebudayaan Nasional, Istora Senayan (2019); “Tokidoki” di Museum No-Ma, Prefektur Shiga, Jepang (2019); “Spektrum Hendra Gunawan” di Museum Ciputra Artpreneur Jakarta (2018).
Perjalanan bersama antara Dwi Putro dan Nawa Tunggal di dunia seni rupa terus berlanjut. Hingga pada akhirnya di tahun 2022 ini keduanya melebur dalam satu nama: Dwi Tunggal.
Titik tolak karya-karya ini adalah sebuah teks ‘borobudur’ yang ditulis oleh Dwi Putro. Dwi, dengan karunia skizofrenia residual, memiliki kebiasaan menulis di atas kertas manila atau buku tulis. Tulisannya selalu meloncat-loncat, acak tapi repetitif. Ketidakmampuannya menyusun kalimat baku menunjukkan ciri-ciri gejala medis yang secara umum dikategorikan dengan gangguan otak. Sang adik, Nawa Tunggal menganggap tulisan-tulisan Dwi itu seperti sebuah ungkapani dari dunia alam bawah sadar.

Pada April 2022 Nawa akhirnya mengajak Dwi ke candi Borobudur untuk melukis. Setelah itu, Dwi menghasilkan ratusan lukisan bertema Borobudur. Hanya sebagian kecil seri lukisan Dwi yang ditampilkan dalam ruangan ini.