Ki Sigit Sukasman

Sukasman adalah seniman yang sangat mengagumi keindahan bentuk wayang kulit purwa. Kekaguman inilah yang membuat dirinya terus mencari rahasia tersembunyi dibalik keindahan tersebut. Dengan pengetahuannya yang ia dapat setelah belajar di ASRI (1960-1962), dan pengalamannya ketika bekerja sebagai disainer di Amerika Serikat dan Belanda (1964-1974), Sukasman berhasil membuat tesis tentang seni rupa wayang.
Dalam tesisnya tersebut, Sukasman menjelaskan tentang adanya hukum kejelasan bentuk pada seni rupa wayang kulit purwa. Sehingga karakter wayang putri yang ukurannya tidak sampai 30 cm saja tetap dapat dikenali dari jarak 30 m sekalipun. Dengan menggunakan hukum kejelasan bentuk tersebut, Sukasman berhasil mengkreasi ulang karakter-karakter Wayang Kulit Purwa dengan menggabungkan elemen-elemen artistik baru tanpa mengubah kekhasan dari karakter-karakter tersebut.
Meski karakter-karakter wayang kreasi Sukasman sama dengan karakter-karakter wayang kulit purwa, namun atribut-atribut yang melekat pada wayang kreasi Sukasman berbeda dengan atribut-atribut yang melekat pada wayang kulit purwa. Maka untuk membedakan wayang kreasi Sukasman dengan wayang kulit purwa, Sukasman memberikan nama WAYANG UKUR untuk wayang kreasinya.
Sebagai wayang kreasi baru yang berbeda dengan wayang kulit purwa, Wayang Ukur banyak mendapat cemoohan sekaligus pujian dari para penggemar wayang dan pelaku seni pewayangan (di akhir tahun ‘70-an). Hal inilah yang kemudian mengukuhkan kesenimanan Sukasman sebagai seniman pendobrak tradisi adiluhung seni rupa pewayangan.
Dalam proses kreatifnya pada periode 80an, Sukasman kembali menghasilkan kreasi baru yang dalam hal ini adalah bentuk baru pementasan wayang kulit. Dalam kreasinya tersebut Sukasman mampu menggabungkan wayang dan bayangan dalam satu tangkapan pemandangan yang penuh dengan ilusi-ilusi paralak. Bukan hanya bentuk pementasan baru, Sukasman juga menciptakan model pendekatan baru yang lebih padat dan dramatik dalam menarasikan cerita-cerita wayang yang dipentaskan.
Sebagai pribadi sederhana yang mencurahkan seluruh hidupnya bagi pengembangan seni rupa dan seni pertunjukan wayang, hingga akhir hidupnya (2009), Sukasman telah menghasilkan lebih dari 600 karya Wayang Ukur, 6000 lebih karya sketsa Wayang Ukur, 100-an lebih atribut pakaian tari, 11 naskah cerita wayang, dan bertumpuk-tumpuk catatan proses kreatifnya. Atas segala kerja keras dan pengabdiannya tersebut, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya “BINTANG PARAMA BUDAYA” pada tahun 2010. Penghargaan tertinggi yang diberikan Pemerintah Republik Indonesia kepada putra bangsa terbaik atas pengabdiannya pada pengembangan kebudayaan di Indonesia.
Kemarahan dan keputusasaan pada kenyataan, selalu menjadi titik tolak kerja kreatif Sukasman. Bagaimana ia menjungkirbalikkannya menjadi senyum indah yang menawan hati, adalah proses kreatif yang tidak pernah membuatnya lelah.

Dengan merefleksikan diri pada karakter gembel Semar dan Togog (yang ia anggap sebagai gurunya KEJAWEN), ia membangun kesadaran atas pentingnya seni untuk mengubah kenyataan.

Dalam pameran ini kami menghadirkan karya dan catatan proses kreatif Sukasman. Dari karya dan catatan tersebut, kita dapat melihat jejak kreatif Sukasman, motivasi yang menggerakkannya, dan kesadaran yang ia bangun.

Demokrasi Dipuja Anarki Tiba (Video pendek)
Tentang kegelisahan Sukasman dan kesadaran atas pentingnya seni bagi kehidupan.

Lemari Kegelisahan
Lemari yang merekam catatan kegelisahan Sukasman ini berisikan, patung potret diri, buku koleksi quotation, artefak pakaian tari, arsip dan karya-karya sketsa yang menjadi bagian penting dari proses kreatifnya.

Kotak Misteri Mimpi dan Sastra Sandi
Dalam kotak ini tersimpan catatan-catatan mimpi yang sulit dimengerti dan tentang Sastra Sandi yang penuh misteri.

Koper Self Medication
Dalam koper ini tersimpan suara kegelisahan hati dan pikiran-pikiran positif Sukasman yang selalu ia bawa untuk dibagikan kepada orang lain. Makna seni bagi kebahagiaan hidup adalah hal penting yang ia selalu sampaikan.

Kotak Tesis Wayang
Dalam kotak ini tersimpan tesis Sukasman tentang rahasia keindahan bentuk Wayang Kulit purwa yang kemudian menjadi dasar dari penciptaan karakter-karakter Wayang Ukur. Tesis inilah yang selalu ia bawa-bawa untuk dibagikan kepada mereka yang tertarik pada penciptaan karakter wayang kulit.

Panel Mutiara Kata dan Sketsa Wayang Ukur
Panel ini tentang pentingnya kerja untuk hamemayu hayuning Bawana.

Making Love (patung kecil)
Patung ini tentang pentingnya dorongan cinta bagi kehidupan.

Gunungan Bulat Wayang Ukur
Gunungan adalah gambaran dari landskap berpikir dalam dunia pewayangan.
Jika dalam gunungan Wayang kulit purwa, kraton adalah pusat persoalan yang dinarasikan. Maka dalam dunia Wayang Ukur, bumi adalah pusat persoalan yang harus direngkuh dengan cinta.


Dikenal sebagai seorang seniman wayang, menjadikan Ki Sigit Sukasman (biasa dipanggil mbah Kasman) benar-benar mencurahkan seluruh hidupnya untuk wayang. Proses berkaryanya hingga menemukan titik pencapaian, yang dikenal dengan sebutan wayang ukur adalah salah satu bukti. Pada fase inilah Mbah Kasman menemukan titik pencerahan, sebuah enlightenment. Wayang sebagai sebuah seni yang adiluhung tidak menutup kemungkinan untuk terus diolah, dimaknai dan dikreasi terus-menerus. Gubahan bentuk wayang mbah Kasman bersumber pada metode ilmiah seni rupa, tidak hanya metoda dalam mengukur anatomi wayang namun juga mengukur impact bentuk wayang gubahannya ketika dipentaskan. Bagaimana mata penonton melihat wayang benar-benar dimaksimalkan, sehingga pertunjukan wayang ukur mampu menjadi sebuah orkestrasi yang sangat komplit dan lebih megah.

Bagi mbah Kasman, wayang adalah filsafat hidup. Lewat cerita, tokoh dan sifat-sifatnya wayang dapat dijadikan sebagai cermin dalam mengarungi kehidupan. Karena itulah diluar khasanah wayang, Mbah Kasman juga sangat intens merenungkan, mempertanyakan dan memaknai berbagai peristiwa yang terjadi didunia ini, baik dalam aspek agama, sosial, budaya, perang, kejawen hingga hal-hal remeh-temeh lainnya. Semua hasil pikirannya tadi banyak dituliskan di sembarang benda yang ada rumah sekaligus studionya. Terlalu susah untuk memberi pengantar bagi karya dan sosok Mbah Kasman yang sangat kompleks ini, bahkan ada yang menyebutnya sebagai Van Gogh dari Yogyakarta.

Sebagai pribadi sederhana yang mencurahkan seluruh hidupnya bagi pengembangan seni rupa dan seni pertunjukan wayang, hingga akhir hidupnya (2009), Sukasman telah menghasilkan lebih dari 600 karya Wayang Ukur, 6000 lebih karya sketsa Wayang Ukur, 100an lebih atribut pakaian tari, 11 naskah cerita wayang, dan bertumpuk-tumpuk catatan proses kreatifnya. Atas segala kerja keras dan pengabdiannya tersebut, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya “BINTANG PARAMA BUDAYA” pada tahun 2010, setahun setelah kepergiannya.

Kali ini kami menghadirkan karya-karya dan catatan-catatan proses kreatif Sukasman yang belum pernah dipamerkan di hadapan publik. Karya-karya dan catatan-catatan tersebut meliputi karya-karya sketsa dan poster grafis kata mutiara pada papan panel, replika tesis hukum kejelasan bentuk wayang, sketsa wayang, surat, sastra sandi, catatan-catatan mimpi, dan catatan proses kreatif lain, naskah cerita gubahan yang dibacakan, letupan-letupan pemikiran yang dituliskannya pada lemari dan pintu, patung potret diri, serta karya patung relief gunungan bulat Wayang Ukur yang merupakan gambaran padat dari lanskap pikiran Sukasman yang ia tanamkan pada dunia Wayang Ukur yang ia ciptakan.

Yayasan Wayang Ukur Sukasman
Terima kasih kepada: Yoyok Hadiwahyuno, Rommy, Wiro, Bayu, Deni, Erson, Arsa rintoko, Susilo Nugroho, Dimas, Blass Squad, yang telah menyiapkan materi pameran ini.