Indiguerillas

Indieguerillas, sebuah kolaboratif seniman yang didirikan pada tahun 1999, adalah duet seniman dari Yogyakarta-Indonesia. Mereka adalah pasangan Santi Ariestyowanti, dan Dyatmiko“Miko”Bawono. Santi memiliki latar belakang Desain Komunikasi Visual dan Miko Desain Interior. Keduanya merupakan alumni Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI Yogyakarta). Filosofi indieguerillas "terus bergerilya untuk menemukan kemungkinan baru" telah berhasil menjadikan mereka seniman penuh waktu. Meskipun demikian, desain tetap memainkan peran yang sangat penting karena itu memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi penggunaan media dan teknik yang tidak konvensional sebagai bagian dari proses artistik mereka. Selain kemahiran mereka dalam efek visual dan eksperimen inter-media, karya-karya indieguerillas juga dikenal karena pengaruh cerita rakyatnya. Melalui karya-karya multidisiplin mereka, mereka mempercakapkan realitas mereka sebagai orang Jawa yang hidup di tengah gelombang konsumerisme global yang menuntut segala sesuatunya serba instan. Proses pembuatan karya seni mereka merupakan ritual autokritik dan metode refleksi diri. Jalinan unik antara nilai-nilai tradisional dan budaya kontemporer telah membawa indieguerillas ke berbagai pameran di seluruh dunia.
website: www.indieguerillas.com
facebook : indieguerillas
instagram: @indieguerillas
Dyatmiko “Miko” Lancur Bawono
Lahir di Kudus, Jawa Tengah, Indonesia, 1975
Lulus dari Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni Rupa, Insititut Seni Indonesia, Yogyakarta
Saat ini bekerja dan tinggal di Yogyakarta, Indonesia
Santi Ariestyowanti
Lahir di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, 1977
Luus dari Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Saat ini bekerja dan tinggal di Yogyakarta, Indonesia
Karya ini adalah refleksi dari situasi yang mewakili Masa lalu, Momen saat ini, dan Masa depan. Masa lalu dan masa depan laten muncul di alam pikiran manusia apalagi bila keduanya dihubungkan dengan ekspektasi hidup. Keinginan-keinginan yang tidak tercapai diwaktu lalu kemudian menggumpal menjadi sesal. Atau keinginan yang kita asumsikan sulit untuk terwujud di masa depan, akan menjelma menjadi bibit benalu kecemasan yang pelan-pelan bersemi. Penyesalan berlarut maupun kecemasan yang menjadi-jadi hanya akan membawa kita berjalan menuju jurang ketakutan. Disana kita akan bertemu akar dari segala macam energi negatif yang mencengkeram kita, dan bergumpal menjadi amarah. Dari amarah akan muncul aksi destruktif. Akumulasi residunya berpotensi besar untuk merepotkan. Seringnya hal ini jarang atau bahkan tidak pernah kita sadari. "Waktu" seakan melulu diisi dengan kesibukan untuk mengkultivasi pikiran-pikiran yang semestinya tidak perlu.

Pikiran-pikiran tentang peristiwa yang telah berlalu dan yang belum tentu terjadi begitu mendominasi dan membayangi hidup sebagian besar dari kita. Masa kini (present time) begitu berharga, karena seharusnyalah secara nyata kita alami dan nikmati detik ini juga, disini, sekarang, namun justru sering kali lewat begitu saja, tertutup oleh bayang-bayang Masa Lalu dan Masa Depan.