F.X. Harsono

FX Harsono lahir pada tahun 1949 di Blitar, Jawa Timur, Indonesia. Ia menempuh studi Seni Lukis di STSRI ‘ASRI” Yogyakarta dari tahun 1969 hingga 1974, kemudian dari tahun 1987 hingga 1991 di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Ia mengajar sebagai dosen pada Fakultas Seni dan Desain sejak tahun 2005 hingga sekarang di Universitas Pelita Harapan, Tangerang. Ia tinggal dan bekerja di Jakarta, Indonesia.

Sejak 1994 hingga kini, FX Harsono beberapa kali melakukan pameran tunggal di Jakarta, Bandung, Jogja, Singapore, Beijing, dan New York. Ia juga telah mengikuti beberapa pameran biennale dan triennale di Korea, Australia, Jakarta, Jogja dan Moscow. Selain itu, ia telah berpartisipasi dalam banyak pameran kelompok baik nasional maupun internasiol, diantaranya di Asia, Australia, Eropa dan Amerika.

FX Harsono juga membuat karya-karya video performance, antara lain film dokumenter “Ndudah” pada tahun 2009, video “Writing in the Rain”, video performance musikal “NAMA”, serta video dokumenter “The Last Survivor”.
Encounter dari bahasa Inggris yang berarti 'Perjumpaan', tetapi bisa juga berarti 'Pertempuran'. Budaya baru tercipta melalui proses tawar-menawar, tarik-ulur, ada yang bisa diterima dan ada yang tidak. Proses ini layaknya sebuah pertempuran yang tidak mengakibatkan kehancuran tetapi justru menciptakan budaya baru. Budaya hybrid.

Budaya Tionghoa terjalin dengan budaya Islam dan budaya lokal, kemudian menghasilkan budaya baru yang dikenal dengan budaya Tionghoa Peranakan. Kali ini saya melihat ke Lasem dan sedikit Semarang. Ciri khas kota Lasem adalah arsitektur Pecinan yang menunjukkan percampuran budaya Tionghoa, Jawa dan Eropa.

Bangunan-bangunan di kota Lasem memperlihatkan kemakmuran orang-orang Tionghoa disana. Bangunan itu layaknya monumen kejayaan masa lalu yang kini menjadi tua, berdebu, penuh sawang, suram serta ditinggalkan penghuninya. Nampaknya generasi muda tidak lagi berminat tinggal di rumah megah pada masa lalu, namun bangunan tua itu juga tidak lagi nyaman sebagai rumah tinggal orang modern. Kini, rumah-rumah tua di Lasem banyak dijaga oleh perempuan tua yang setia menunggunya.

Saya menemukan banyak artefak berupa pakaian pengantin, alat membuat kue dan peralatan makan. Dari artefak-artefak ini saya membayangkan kemegahan dan kejayaan yang dibangun oleh para lelaki dan direpresentasikan dalam bangunan megah dan kokoh, namun didalamnya ada perempuan yang menghidupkan jiwa rumah itu.

Perempuan dalam budaya Cina kuno termarginalisasi sebagai warga kelas dua, yang keberadaannya tidak begitu diperhitungkan, hingga berlaku istilah, istri yang baik harus tunduk dan patuh terhadap perintah suaminya. Tunduk adalah kebajikan tertinggi kaum wanita. Dibalik tradisi yang mendiskriminasi perempuan, ternyata pada sisi lain peran perempuan adalah jiwa rumah megah itu. Perempuan adalah penerus dan pelestari kebudayaan yang konsisten menyelenggarakan upacara-upacara keagamaan dan tradisi lainnya.