Entang Wiharso

Entang Wiharso menjalankan praktik multi-disiplin dan mempercakapkan hal-hal dengan urgensi melalui saluran apa pun yang sesuai dengan kebutuhan yang mendesaknya, baik itu lukisan, patung, video, instalasi, atau pertunjukan. Sebagai Guggenheim Fellow 2019, dia dikenal karena penggambarannya yang unik tentang kehidupan kontemporer dengan menggunakan bahasa visual yang dramatis, menciptakan karya seni yang berkaitan dengan mitologi masa lalu animisme yang berusia berabad-abad dan gaya hidup berkecepatan tinggi abad ke-21 yang hiperkoneksi. Dengan memiliki studio di Indonesia dan AS, kehidupan dan keluarga dekatnya adalah bikultural, biracial dan pewaris warisan agama dan spiritual yang beragam. Karya terbarunya berfokus pada dualitas budaya dan pengalaman di dua tanah airnya, membangun ide-ide yang menghubungkan spiritualitas dan transendensi dengan narasi nasional tentang kemajuan dan takdir melalui eksplorasi lanskap dan struktur geopolitik yang berkelanjutan.

Wiharso telah mengadakan lebih dari 45 pameran tunggal, antara lain, di Tang Contemporary Art, Bangkok; Marc Straus, New York, NY; Galeri Mizuma, Singapura; Galeri Can, Jakarta; ARNDT, Berlin/Singapura; Institut Cetak Tyler Singapura, Singapura; Bernier/Eliades, Athena, Yunani; Institut Seni Kalamazoo, Kalamazoo; dan Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.. Dia juga pernah mengikuti pameran biennial, antara lain, Kunming Biennale (2018-19); Prospect.3 (2014-15), 55th Venice Biennale (2013), Prague Biennale 6 (2013), 1st Nanjing Biennale (2010) antara lain, serta dalam pameran kelompok internasional di institusi termasuk National Gallery of Australia, Canberra; Museum Seni Kontemporer Lembah Hudson, Peekskill, NY; Museum Jeonbuk, Korea; Museum MACAN, Jakarta; Institut Cetak Tyler Singapura, Singapura; Museum Seni Modern, Gunma; Hilger Brotkunsthalle, Wina; Museum Seni Singapura; Singapura; Galeri Nasional Indonesia, Jakarta; Musée d'art contemporain, Lyon; Museum Seni Mori, Tokyo; Galeri Nasional Victoria, Melbourne; Museum Seni Kontemporer Kiasma, Helsinki; dan Museum Herbert F. Johnson, Ithaca, NY.
Karya ini menyuarakan persoalan rasisme yang terus terjadi melalui kurun waktu panjang. Topik rasisme yang dijadikan contoh adalah melalui dunia olahraga, dalam hal ini sepak bola. Sebelum dimulai pertandingan semua mengheningkan cipta sejenak dengan berlutut sebagai bentuk perlawanan segala bentuk rasisme. Peristiwa tersebut menyimbolkan konsep keseimbangan - Tua Muda, laki laki perempuan, hidup mati, kulit hitam kulit putih, kaya miskin, orang Asia orang Eropa dan seterusnya adalah saling memberi keseimbangan atau saling melengkapi. Walau sudah mengalami berbagai proses yang sangat panjang, ternyata mewujudkan konsep keseimbangan dalam kehidupan manusia tidaklah mudah.