Agung 'Agugn' Prabowo

Agung Prabowo alias Agugn (Bandung 1985) lulus dari Jurusan Seni Grafis di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Selama ini menjelajahi berbagai teknik seni grafis, sebagian besar linocut dan telah mendorong batas antara seni grafis dan instalasi. Ketakutan, alam, dan budaya perdukunan menjadi dorongan untuk membuat seni dengan perspektif antropomorfik dan psikoanalisis. Dia menyelenggarakan pameran tunggal pertamanya, 'Natural Mystic' di Bentara Budaya Jakarta, Yogyakarta, Solo, dan Bali-mendapatkan hadiah pertamanya untuk Triennale Seni Grafis Indonesia 4 pada tahun 2012. Pertunjukan tunggal berikutnya pada tahun 2015 adalah di Jogja Contemporary, berjudul 'Unguarded Guards' dan pada tahun 2016, 'AGUGN:Printing Live in the Cosmos' di Vinyl on Vinyl, Manila, dan pertunjukan solo lainnya di Mizuma Gallery, Singapura yang disebut 'Molasses' diadakan pada tahun 2017. Pertunjukan solonya baru-baru ini diadakan di Machida City Museum Of Graphic Art, Tokyo pada tahun 2020, yang sebelumnya pada tahun 2019, dia diundang untuk melakukan program residensi di Machida City, Tokyo. Dia telah mengikuti banyak pameran kelompok internasional, termasuk 'Termasuk ContemporaryArt from Indonesia' di Darren Knights Gallery, Sydney pada 2019, dan 'Multilayered-New Print 2018/Summer', di International Print Centre, New York pada 2018. Pameran kelompok lain yang pernah dia ikuti adalah 'Java-Art Energy' di Institut des Cultures d'Islam, Paris 2018, di sana dia memamerkan karya instalasinya yang pernah ditampilkan pada 2017 di 'Re Emergence' di Selasar Sunaryo Artspace.
Situasi pandemi masih berlangsung Perubahan tatanan tidak terelakkan. Dalam praktik berkesenian ini cukup berdampak terutama pada karya-karya taktil yang membutuhkan apresiasi di ruang fisik. Sementara penyelenggaraan pameran secara langsung kian berkurang. Agung menyikapi pandemi dengan terus bersiasat dalam berkarya, dalam berbagai kesempatan yang berbeda. Seperti halnya karya komisi yang dapat menciptakan keberlangsungan kerja-kerja produksi di studio grafisnya. Yang salah satunya adalah karya yang dihadirkan di pameran ini.

Melalui citraan visual wanita tangguh yang berhadapan dengan deburan ombak di hadapannya. Ia mencoba menyajikan perspektif visual yang dianalogikannya sebagai cara pandang dunia yang lebih baik, dan menciptakan keselarasan.